KESEMPATAN EMAS DUA MAHASISWA ASAL NGADA TERBANG KE JEPANG UNTUK KULIAH DAN MAGANG

Denpasar, 5 Februari 2026 – Sebuah program unggulan yang dirintis Pemerintah Daerah Kabupaten Ngata, Flores, NTT, bersama ITB STIKOM Bali, mulai menunjukkan hasil yang nyata. Dua pemuda asal Ngada, Sanjose Diego Sastronugroho Tambus dan Christianus Vieri Salam Koeng, resmi dilepas untuk berangkat ke Jepang mengikuti program kuliah sambil magang. Acara pelepasan berlangsung di STIKOM Bali Convention Center, Denpasar, pada Rabu (5/2/2026) lalu.

Momen pelepasan ini menjadi bagian dari kerja sama strategis yang telah dibangun sejak beberapa tahun silam antara Pemda Ngada dengan kampus ITB STIKOM Bali. Bupati Ngada, Raymundus Bena, menyampaikan bahwa program ini merupakan salah satu fokus utamanya dalam membuka akses pendidikan dan peluang karir global bagi generasi muda Ngada.

“Ini adalah program yang kami gagas untuk memberi jalan terang bagi anak-anak kami. Mereka tidak hanya mengejar gelar akademis, tetapi juga mendapatkan pengalaman kerja langsung di negara dengan etos dan teknologi maju seperti Jepang,” ujar Bupati Raymundus Bena dalam sambutannya yang disampaikan dalam dua bahasa.

Program ini diawali dengan proses pengiriman 49 mahasiswa asal Ngada untuk mengikuti persiapan intensif di Bali, yang meliputi pendidikan bahasa Jepang dan pembekalan budaya kerja. Lembaga kursus dan pelatihan, LPK ACE Indonesia, bertindak sebagai mitra yang mempersiapkan peserta hingga siap bekerja.

Direktur LPK ACE Indonesia, yang akrab disapa Mr. Arleh, mengungkapkan kebanggaannya melihat perkembangan peserta. “Adaptasi awal memang penuh tantangan karena perbedaan budaya dan kedisiplinan yang sangat tinggi. Namun, kegigihan mereka membuahkan hasil. Sekitar separuh dari peserta sudah berhasil mendapatkan penempatan kerja di Jepang,” jelasnya.

Hingga Maret 2026, diproyeksikan akan ada 12 peserta asal Ngada yang telah berangkat ke Jepang. Rektor ITB STIKOM Bali, Dr. Dadang Hermawan, menekankan nilai lebih yang didapatkan para mahasiswa ini. “Mereka mendapatkan pengalaman yang komprehensif: gelar sarjana, pengalaman kerja internasional, kemampuan mandiri secara finansial, dan yang terpenting, masa depan yang lebih terjamin,” paparnya.

Perasaan haru dan syukur mendalam diungkapkan oleh keluarga besar kedua perintis ini. Emirensiana Moi, ibu dari Christianus Vieri, menyampaikan terima kasih tak terhingga atas terbukanya kesempatan ini bagi putranya. “Kami hanya keluarga sederhana. Ini adalah jalan Tuhan untuk membantu masa depan anak kami dan keluarga. Semoga dia bisa menjalani semua proses dengan baik di Jepang,” ujarnya dengan penuh haru.

Sementara itu, Fabianus Sebastianus Pesek, ayah dari Sanjose Diego, yang berprofesi sebagai ASN, berpesan melalui sambungan telepon agar putranya menjaga nama baik keluarga, daerah, dan bangsa Indonesia selama menempuh hidup di negeri orang.

Keberangkatan Diego dan Vieri ini menjadi inspirasi bagi puluhan rekan mereka yang masih menunggu giliran. Mereka membuktikan bahwa dengan ketekunan, disiplin, dan dukungan yang tepat, anak-anak dari daerah pelosok Indonesia pun mampu mengejar mimpi hingga ke kancah internasional. Perjalanan ini bukan sekadar tentang bekerja dan kuliah, tetapi tentang membuka cakrawala dan membawa pulang pengetahuan serta pengalaman berharga untuk membangun tanah kelahiran di masa depan.